jump to navigation

DAFTAR SUAKA MARGASATWA DI SULAWESI 26 October 2010

Posted by 123bisnis80 in Sains.
Tags: , , , , ,
trackback

1. SUAKA MARGASATWA TANJUNG AMOLENGO

Letak

Dasar penunjukan sebagai suaka margasatwa adalah karena kawasan hutan Amolengo merupakan habitat anoa. Proses penunjukan diawali dengan terbitnya Rekomendasi Gubernur KDH TK. I Sultra No. Pta 4/1/11 tanggal 16 Januari 1973 yang ditindaklanjuti dengan surat Dirjen Kehutanan (saat itu) kepada Menteri Pertanian No. 2504/DJ/I/1975 tanggal 26 Agustus 1975 Kegiatan tatabatas telah dilaksanakan pada bulan Maret 1996 namun hingga saat ini SM Tanjung Amolengo belum ditetapkan/dikukuhkan. Secara adminsitratif kehutanan termasuk ke dalam wilayah RPH Tanjung Polewali, BKPH Laiwoi Selatan, KPH Kendari.

Flora

Tercatat sedikitnya 101 jenis tumbuhan berhabitus pohon yang termasuk ke dalam 38 famili, 28 jenis herba dan semak yang termasuk dalam 22 famili, serta 10 jenis rumput dari 2 famili. Di hutan primer jenis tumbuhan yang dominan adalah nguru (Tarrietia riedeliana), rao (Dracontomelon mangiferum), dan kolasa (Parinari corymbosa). Di hutan sekunder, jenis tumbuhan dominan adalah bolongita (Tetrameles nudiflora), osee (Evodia celebica), ondolea (Canangium odoratum), dan kalengka (Anthocephalus macrophyllus). Jenis tumbuhan yang dominan di hutan pantai adalah dungun (Heritiera littoralis), buta-buta (Exoecaria agallocha), bambaelo (Dolichandrone spathacea), cendrana (Pterocarpus indicus), dan taloe (Cynometra ramiflora). Tercatat 8 jenis tumbuhan pada formasi hutan bakau, dengan jenis dominan adalah tongke (Bruguiera gymnorrhiza), bakau (Rhizophora mucronata), dan tangir (B. carryophylloides).

Fauna

Jenis satwaliar mammalia yang dapat dijumpai di SM Tanjung Amolengo antara lain anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), rusa (Cervus timorensis), monyet hitam Sulawesi (Macaca ochreata), babi hutan (Sus celebensis), dan bajing (Callosciurus sp.). Kelebihan yang menonjol dari SM Tanjung Amolengo adalah mudahnya satwa anoa diamati. Pengamat tinggal menunggu kehadiran satwaliar tersebut pada pagi atau sore hari di feeding ground (areal mencari makan) yang berupa padang rumput, di Pera I dan Pera II. Anoa dataran rendah merupakan satwaliar endemik Sulawesi, yang telah menghuni pulau tersebut sejak kurang lebih 60 juta tahun yang lalu, dan telah ditetapkan oleh Pemda Tk. I Sultra sebagai satwa identitas propinsi (Fauna Maskot Propinsi). SM Tanjung Amolengo merupakan rangkaian habitat anoa yang sangat penting di Selatan dan Tenggara Propinsi Sulawesi Tenggara, selain SM Tg. Peropa dan SM Tg. Batikolo.

Keanekaragaman jenis burung cukup tinggi Hal ini didukung oleh tingginya keanekaragaman jenis tumbuhan sebagai sumber pakan, tempat berlindung dan tempat berbiak. Tercatat sedikitnya 50 jenis burung di suaka margasatwa tersebut, antara lain rangkong Sulawesi (Rhyticeros cassidix), merpati abu-abu (Ducula aenea), merpati putih (Ducula bicolor), ekek (Loriculus stigmatus), koda (Tanygnathus sumatranus), burung kuning (Oriulus chinensis), dan ayam hutan merah (Gal1us gal1us). Pada musim hujan dapat dijumpai jenis burung air, antara lain Belibis (Dendrocygna arquata), bangau hitam (Ciconia episcopus), cangak merah (Ardea purpurea), cekakak (Halycon chloris), raja udang merah (Halcyon coromanda), dan raja udang kecil (Alcedo atthis). Jenis reptilian diantaranya adalah biawak (Varanus togianus) dan ular phython (Phython molurus).

2. SUAKA MARGASATWA BUTON UTARA

Letak

Suaka Margasatwa Buton Utara seluas 82.000 ha yang terletak di Kabupaten Muna ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 782/Kpts-II/Um/12/1979 tanggal 17 Desember 1979 atas rekomendasi Gubernur KDH Tk. I Sultra dengan surat Nomor Pta. 4/1/11 tanggal 16 Januari 1973. Dasar/latar belakang penunjukan adalah potensi flora dan fauna yang ada di dalam kawasan yang perlu dibina kelestariannya untuk dapat dimanfaatkan bagi kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebudayaan.

Flora

Jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan antara lain dolipo (Terminalia copelandil), soni (Dillepia megalantha), gito-gito (Diospyros pilosenthera), cendrana (Pterocarpus indicus), kaba (Canangium odoratum), bengkali (Anthocephallus indicus), Kenari (Canarium vulgaris), Bintangur (Dillenia serrata), dao (Dracontomelon dao), dan beberapa jenis anggrek (Acanthepipium sp, Bulbophyllum sp, Dendrobium sp, dan Eria floribunda).

Fauna

satwaliar yang berhabitat dalam kawasan antara lain: anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis), anoa pegunungan (B. quarlesi), rusa (Cervus timorensis), monyet Buton (Macaca brunnences), kus-kus (Phalanger sp.), dan maleo senkawor (Macrocephalon maleo).

3. SUAKA MARGASATWA TANJUNG PEROPA

Letak

Suaka Margasatwa Tanjung Peropa seluas 38.937 ha yang terletak di Dati II Kendari telah ditetapkan dengan SK. Menhut No.393/Kpts-/VII/1986 tanggal 23 Desember 1986. Sejarah panjang proses penetapannya diawali dengan terbitnya rekomendasi Gubernur KDH Tk. I Sultra No. Pta. 4/1/11 tanggal 16 Januari 1973, yang ditindaklanjuti dengan surat Dirjen Kehutanan (saat itu) kepada Menteri Pertanian No. 3689/DJ/I/1980 tanggal 25 Oktober 1980. Menteri Pertanian segera menunjuk kawasan hutan Tanjung Peropa seluas 38.000 ha sebagai suaka margasatwa dengan SK No. 845/Kpts/Um/11/1980 tanggal 25 Nopember 1980. Dasar/latar belakang penunjukannya adalah karena kawasan tersebut memiliki tipe hutan campuran non Dipterocarpaceae dengan komposisi hutan bakau, hutan pantai, hutan belukar, dan hutan dataran rendah, yang merupakan habitat satwaliar yang dilindungi, antara lain anoa, maleo, rangkong, rusa, dan bangau hitam (Ciconia episscopus). Setelah ditatabatas, luasnya bertambah menjadi 38.937 ha, yang dituangkan dalam Berita Acara Tata Batas tanggal 4 Pebruari 1986 dan disahkan oleh Menteri Kehutanan pada tanggal 9 Desember 1986.

Secara administratif pemerintahan termasuk wilayah Desa Tambeanga, Laonti, Sangi Sangi, Tambolosu, Lapuko, dan Sumber Sari, Kecamatan Lainea dan Moramo, Kabupaten Dati II Kendari. Sedangkan secara administrative kehutanan termasuk wilayah kerja RPH Wawosunggu (BKPH Kendari) dan RPH Tanjung Polewali (BKPH Laiwoi Selatan), KPH Kendari.

Flora

Beberapa jenis tumbuhan liar yang ditemukan antara lain beringin (Ficus benyamina), bayam (Intsia bijuga), kalapi (Kalappia celebica), gito-gito (Diospyros pilosanthera), ponto (Utsea firma Hook. F), dan eha (Castanopsis buruana Miq).

Fauna

Sedangkan satwaliar yang berhabitat di dalam kawasan antara lain anoa, maleo. rangkong, rusa, bangau hitam (Ciconia episscopus), kuskus, kera hitam Sulawesi, biawak, dan berbagai jenis burung.

4. SUAKA MARGASATWA TANJUNG BATIKOLO

Letak

Suaka Marga Satwa Tanjung Batikolo ditetapkan berdasarkan SK. Menteri Kehutanan Nomor 425/Kpts-II/1995 tanggal 18 Agustus 1995. Sebelumnya telah ditunjuk dengan Keputusan Menteri Pertanian No. 844/Kpts/Um/11/1980 tanggal 25 Nopember 1980, memperhatikan Rekomendasi Gubernur KDH Tk. I Sulawesi Tenggara No. Pta. 4/1/11 tanggal 16 Januari 1973, dan surat Dirjen Kehutanan No. 3688/DJ/I/1980 tanggal 25 Oktober 1980. Dasar atau latar belakang penunjukan adalah karena kelompok hutan Tg. Batikolo merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropika dengan tipe vegetasi hutan non Dipterocarpaceae, hutan belukar, hutan pantai, dan hutan bakau, serta merupakan habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwaliar dilindungi.

Secara administrative pemerintahan termasuk wilayah Desa Rumba-Rumba, Kecamatan Lainea, Kab. Kendari. Sedangkan secara adminstatif kehutanan termasuk dalam wilayah RPH Lainea dan RPH Tanjung Polewali, BKPH Laiwoi Selatan, KPH Kendari.

Luas SM Tg. Batikolo adalah 4.060 ha, dengan batas-batas kawasan sebagai berikut sebelah Utara dengan Teluk Batikolo, sebelah Timur dengan Selat Buton, sebelah Selatan dengan Teluk Kolono, dan di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Polewali. Panjang batasnya ± 42,175 km dengan pal batas berjumlah 421 buah (keliling).

Flora

Jenis tumbuhan yang ditemui antara lain beringin (Ficus benyamina), bayam (Intsia bijuga), kalapi (Kalappia celebica), gito-gito (Diospyros pilosantera), ponto (Utsea firma) dan eha (Castanopsis buruana).

Fauna

anoa (Anoa depressicornis), rusa (Cervus timorensis), kus-kus (Phalanger sp.), kera hitam Sulawesi (Macaca ochreata), maleo (Macrochepalon maleo), biawak (Varanus sp) dan beberapa jenis burung seperti perkici hijau, dan betet Sulawesi.

5. SUAKA MARGASATWA LAMBUSANGO

Letak

Kawasan hutan Lambusango seluas 28.510 ha yang terletak di Kabupaten Dati II Buton diperuntukkan sebagai kawasan hutan dengan fungsi suaka alam berdasarkan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) yang telah disahkan oleh Menteri Pertanian pada tanggal 1 September 1982 dengan SK Nomor 639/Kpts/9/Um/1982.

Flora

Jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan di dalam kawasan antara lain kayu besi (Mitocideros petiolata), kuma (Palaquium obovatum), wola (Vitex copassus), bayam (Intsia bijuga), cendrana (Pterocarpus indicus), bangkali (Anthocephallus macrophyllus), kayu angin (Casuarina rumpiana), sengon (Paraserianthes falcataria), dan rotan (Calamus spp.).

Fauna

Satwaliar yang berhabitat di dalam kawasan antara lain anoa, kera hitam, rusa, kus-kus, sapi liar, biawak, merpati hut.an putih dan abu-abu, musang Sulawesi, serindit Sulawesi, dan lain-lain.

sumber  http://www.idrap.or.id

 

Tulisan Terkait :

1. DAFTAR TAMAN NASIONAL DI SULAWESI

2. CAGAR ALAM DI SULAWESI

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: